Budaya patriarki akar ketidaksetaraan gender: menteri

Abdul Aziz - Tak Berkategori
  • Bagikan

Jakarta – Bintang Puspayoga, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, menyatakan bahwa budaya patriarki merupakan fondasi ketidaksetaraan perempuan.

"Budaya patriarki yang telah mendarah daging secara turun temurun menjadi salah satu penyebab yang membatasi potensi perempuan untuk memiliki kesetaraan dalam pembangunan, untuk menikmati keuntungan pembangunan," ujarnya dalam sebuah wawancara podcast ANTARA pada Rabu.

Perempuan dan anak-anak mendapat perhatian khusus dari pemerintah Indonesia karena mereka masih tergolong kelompok rentan.

Puspayoga menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi antar kementerian dan lembaga dalam menyikapi isu perempuan dan anak.

Lebih lanjut, ia percaya bahwa upaya untuk mengatasi masalah tersebut harus diarahkan pada para pemimpin agama, pemimpin adat, dan tokoh masyarakat setempat.

Di Sumba, Nusa Tenggara Timur, misalnya, menteri menyatakan bahwa pada tahun 2020, masalah tradisi lokal kawin tangkap—yang merupakan jenis penculikan pengantin wanita—ditangani dengan melibatkan para pemimpin agama dan adat di wilayah tersebut.

Menurutnya, kawin tangkap harus dilarang karena memasukkan unsur agresi terhadap perempuan dan menghina martabat perempuan.

Dia menyatakan bahwa praktik menukar wanita dengan dua kuda untuk pernikahan adalah merendahkan wanita.

Puspayoga juga menekankan pentingnya pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat yang bekerja sama untuk menghilangkan budaya yang sudah tidak relevan lagi di zaman modern.

"Karena kita semua tahu bahwa budaya itu cair. Budaya adalah makhluk hidup yang berubah seiring perkembangan zaman," katanya.

Sumber: Antara

  • Bagikan